1.1. Fadhilah Adzan.
Rasulullah saw. bersabda:
“Tiga orang pada hari kiamat (berada) di atas bukit kecil dari kesturi hitam. Mereka tidak disusahkan oleh hisab amalan dan tidak ditimpa oleh kegelisahan, hingga selesainya dari segala sesuatu di antara manusia. Orang yang tiga itu adalah·
- Orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap akan Wajah Allah ‘Azza Wa Jalla dan menjadi Imam pada suatu kaum, dimana kaum itu pun senang kepadanya;
· Orang yang mengumandangkan adzan dalam masjid, dan berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena mengharap akan WajahNya; dan
· Orang yang berpenghidupan sempit di dunia, maka yang demikian itu tiada menyibukkannya dari berbuat amalan akhirat.”
(Hr. At Tirmidzi dari Ibnu Umar)
Rasulullah saw. bersabda,
“Tiadalah yang mendengar seruan adzan dari orang yang beradzan, baik yang mendengar itu jin atau manusia ataupun sesuatu yang lain, melainkan naik saksi untuk orang yang beradzan itu pada hari kiamat.” (Hr. Bukhari dari Abdullah bin Yusuf)
Rasulullah saw. bersabda,
Ada yang menafsirkan mengenai firman Allah ‘Azza Wa Jalla:
“Siapakah yang lebih ihsan perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah dan yang mengerjakan amal yang shalih.” (Qs. Fushilaat [41]:33)
Bahwa ayat ini turun mengenai para mu’adzin.
Rasulullah saw bersabda:
Mengucapkan yang demikian itu adalah sunat, kecuali pada ucapan “Hayya ‘alash-shalaah, (marilah kita shalat)” dan “Hayya-‘alal-fallaah.” (marilah kita mencapai kemenangan).” Maka pada kedua ucapan tersebut diucapkan: “Laa haula wa laa quwataa illa billah… (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali beserta Allah).” Dan pada ucapan muadzin, “Qadqaamatish shalaah.” (Shalat telah berdiri).” Maka pendengar mengucapkan,
“Aqamahallahu wa adaamahaa maa daamatis samaawaatu wal ardl (Ditegakkan Allah shalat itu dan dikekalkanNya selama kekal langit dan bumi).” Dan pada tatswib, yaitu ucapan muadzin pada shalat subuh, “Ashshalaatu kahiruum minan nauum. (shalat itu lebih baik daripada tidur)”, Maka pendengarnya mengucapkan, “Shadaqta wa bararta wa nashahta...” (Engkau benar, engkau telah berbuat kebajikan dan engkau telah memberi nasehat)
Ketika selesai dari adzan, maka dibacakan do’a yaitu:
Sa’id bin Al Musayyab berkata,…
“Barangsiapa mengerjakan shalat pada tanah sahara yang luas (tanah yang lapang), niscaya bershalat di kanannya seorang malaikat dan di kirinya seorang malaikat. Maka jika ia beradzan dan beriqamat, niscaya bershalatlah dibelakangnya para malaikat yang berbaris seperti bukit.”
1.2. Keutamaan shalat Fardhu.
Allah Ta’ala berfirman:
Rasulullah saw bersabda:
“Lima shalat diwajibkan oleh Allah atas para hamba. Maka barangsiapa yang mendatanginya dan tidak menyia-nyiakannya sedikitpun daripadanya, yang di karenakan memandang ringan akan haknya, niscaya ia mempunyai janji di sisi Allah, bahwa ia masuk surga. Dan barangsiapa yang tidak mendatanginya, maka ia tidak mempunyai janji di sisi Allah. Jika Dia menghendaki maka Dia meng-adzabnya, dan Jika Dia menghendaki niscaya dimasukkannya ke dalam surga.”
Rasulullah saw bersabda:
“Perumpamaan shalat yang lima adalah seperti sebuah sungai yang tawar, yang airnya meluap-luap (hingga meliputi) pada pintu seseorang dari kalian. Yang dimana ia pun mandi padanya lima kali dalam sehari. Maka bagaimanakah pendapat kalian tentang orang itu, apakah masih tersimpan kotoran yang menempel pada badannya?..." Mereka menjawab, "Tidak ada sedikitpun...” Nabi saw pun kemudian kembali bersabda,... “Sesungguhnya shalat yang lima itu menghilangkan dosa, seperti air yang menghilangkan kotoran.”
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda
Rasulullah saw bersabda:
Ketika itu ditanyakan kepada Rasulullah saw, “Amalan apakah yang lebih utama?...”
Beliau saw. bersabda,...
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang memelihara shalat yang lima dengan menyempurnakan bersuci dan waktunya, niscaya shalat itu (menjadi) nur baginya dan pembuktian pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, niscaya dibangkitkan ia beserta Fir’aun dan Haman.”
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah Allah mewajibkan atas makhlukNya setelah tauhid yang lebih di cintai bagiNya selain daripada shalat. Dan seandainya ada sesuatu yang lain, yang lebih dicintai-Nya selain dari shalat, niscaya para malaikat akan beribadah dengannya. Maka para malaikat itu sebagian ada yang ruku’, sebagian sujud, sebagian berdiri dan duduk“
Rasulullah saw bersabda:
Artinya, hampir tercerabutnya akan iman dengan terbukanya tali dan jatuhnya tiang.
Rasulullah saw bersabda:
Abu Hurairah ra. berkata:
“Barangsiapa berwudlu, kemudian ia meng-ihsan-kan wudlunya, Kemudian ia keluar dengan sengaja untuk shalat, maka sesungguhnya ia di dalam shalat yang sengaja ia kepada shalat itu, dituliskan baginya dengan salah satu dari dua langkahnya itu sebagai hasanah (kebaikan), dan dihapuskan daripadanya dengan langkah yang satunya lagi akan sayiah-nya (keburukannya). Apabila salah seorang dari kalian mendengar iqamat, maka tidaklah wajar bagi kalian untuk mengemudiankannya. Sesungguhnya yang terbesar pahalanya bagi kalian ialah yang terjauh rumahnya diantara kalian!...”
Hadirin kemudian bertanya,…“Mengapa demikian, yaa Abu Hurairah?…”
Beliau ra. menjawab,.. “Karena banyak akan langkahnya…”
Diriwayatkan,
Kalaupun kemudian terdapat akan shalatnya itu sempurna, niscaya diterima shalat itu daripadanya dan juga amalannya yang lain. Dan kalau terdapat kurang, niscaya ditolak akan shalatnya itu dari padanya dan juga amalannya yang lain.
Rasulullah saw bersabda:
Sebagian Ulama berkata,…
“Orang yang mengerjakan shalat itu adalah seumpama seorang saudagar yang tidak memperoleh keuntungan sebelum kembali akan modalnya. Demikian juga orang yang mengerjakan shalat, tidak diterima yang sunat sebelum ditunaikannya yang fardhu.”
Abu Bakar ra. berkata,…
“Apabila telah datang waktu shalat, maka pergilah ke apimu yang telah kamu nyalakan, lalu padamkanlah api itu.!...”
1.3. Keutamaan Menyempurnakan Rukun.
Rasulullah saw bersabda,..
Yazid Ar Riqasyi berkata,…
“Adalah shalat Rasulullah saw itu sama, seolah-olah sudah ditimbang.”
Rasulullah saw, bersabda,...
“Sesungguhnya dua orang dari ummatku, keduanya berdiri kepada shalat, dimana ruku’ dan sujud keduanya itu satu. Dan diantara shalat keduanya itu adalah (seperti) diantara langit dan bumi.”
Diisyaratkan Nabi saw, dengan sabdanya itu untuk “Khusyu”
Rasulullah saw bersabda,…
Rasulullah saw. bersabda,…
Rasulullah saw bersabda,…
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada waktunya dan melengkapkan wudlunya, menyempurnakan ruku'nya, sujudnya dan khusyu'nya, niscaya shalat itu naik dengan warna yang putih bersih, seraya mengatakan, “Semoga Allah menjaga engkau sebagaimana engkau telah menjaga aku!.”
Barangsiapa mengerjakan shalat pada bukan waktunya dan tidak melengkapkan wudlunya, tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya dan khusyu’nya, niscaya shalat itu naik dengan warna yang hitam gelap, seraya mengatakan,... “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakan aku...” Sehingga -apabila dikehendaki oleh Allah- maka shalat itu, dilipatkan sebagaimana dilipatkannya kain yang buruk, maka dipukulkanlah dengan shalat itu ke mukanya.”
Rasulullah saw bersabda,
Ibnu Mas’ud dan Salman ra. berkata,.
“Shalat itu adalah takaran (mikyala), barangsiapa yang menyempurnakannya niscaya ia menerima kesempurnaannya. Maka barangsiapa yang mengurangi di dalam takaran, maka tahulah ia akan apa yang difirmankan Allah mengenai orang-orang yang mengurangi pada takaran.”
1.4. Keutamaan Shalat Jama’ah
Rasulullah saw bersabda:
Dikisahkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ketika itu Rasulullah saw. tidak melihat sebagian orang pada shalat berjama’ah, lalu beliau saw. bersabda:
“Sungguh aku bercita-cita menyuruh seseorang untuk menjadi imam yang mengimami shalatnya orang banyak. Kemudian aku sendiri mencari orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah itu, lalu aku bakar rumah-rumahnya.”
Pada riwayat lain,…
Ustman ra. berkata yang dimana perkataanya itu adalah suatu hadits marfu’,
“Rasulullah saw bersabda,…
Rasulullah saw bersabda,
Sa’id bin Al-Musayyab berkata,..
“Tidaklah seorang muadzin yang melakukan adzan semenjak dua puluh tahun yang lampau, melainkan saya ada di dalam masjid.”
Muhammad bin Wasi’ berkata,…
“Tidaklah aku merindukan dari dunia ini selain dari tiga hal, yaitu:
- saudara, yang jikalau aku bengkok, maka ia meluruskanku…
- makanan dari rezki yang aku peroleh dengan mudah tanpa menuruti kata orang lain…
- dan shalat berjama’ah, yang aku tidak melupakannya, dan dituliskannya akan keutamaannya bagiku.”
Dikisahkan bahwa Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah pada suatu kali menjadi Imam shalat dari suatu kaum. Tatkala hendak pergi, lalu beliau berkata, “Terus menerus setan menghampiriku tadi, sampai setan itu menampakkan kepadaku, bahwa aku mempunyai kelebihan dari orang lain, maka dari itu, aku tidak mau menjadi imam shalat selama-lamanya.”
Al Hasan berkata,…
“Janganlah engkau shalat di belakang orang yang tiada bergaul dengan ‘ulama.”
An Nakha’i berkata,…
“Orang yang menjadi imam shalat dari orang yang banyak yang tanpa ilmu adalah seumpama orang yang menyukat air di dalam laut, yang tidak mengetahui akan tambahannya dari pada kekurangannya.”
Hatim Al Asham berkata,…
“Saya telah tertinggal suatu shalat berjama’ah, lalu Abu Ishak Al Bukhari menghiburku sendirian. Dan seandainya anakku meninggal dunia, maka aku dihibur oleh lebih dari 10.000 orang, karena bahaya yang menimpa agama dipandang manusia lebih mudah daripada bahaya yang menimpa dunia.”
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Barangsiapa yang mendengar suara penyeru (suara muadzin) dan tidak menjawabnya (memenuhinya), maka dia adalah orang yang tidak menghendaki kebajikan, dan kebajikan itu pun tiada berkehendak kepadanya.”
Abu Hurairah ra. berkata,…
“Adalah lebih baik bagi anak Adam, telinganya penuh dengan timah hancur daripada mendengar adzan yang tidak dijawabnya.”
Dikisahkan bahwa Maimun bin Mahran datang ke Mesjid, lalu orang-orang mengatakan kepada beliau bahwa orang ramai sudah pulang (karena shalat berjama’ah telah selesai), Maka Maimun menjawab, “Inna lillahi wa inna illaihi raaji’uun!... Sesungguhnya keutamaan shalat ini (shalat jama’ah) adalah lebih baik bagiku daripada menjadi wali negeri Irak.”
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang shalat 40 hari dalam berjama’ah yang tidak tertinggal padanya suatu takbiratul ihram, maka dituliskan oleh Allah baginya dua kelepasan; keterlepasan dari nifaq dan keterlepasan dari api neraka.”
Ada yang mengatakan bahwa pada hari kiamat dibangkitkan dari kubur suatu kaum, wajah mereka berseri-seri seperti bintang yang berkilauan. Maka malaikat pun bertanya kepada mereka, “Apakah amal perbuatanmu dahulu?...” Mereka menjawab,… “Adalah kami yang apabila mendengar adzan, lalu kami bangun bersuci dan tidak di ganggu oleh hal yang lain.”
Kemudian dibangkitkan dari kubur suatu golongan, yang wajahnya seperti rembulan, maka menjawab golongan ini sesudah ditanya: “Adalah kami yang berwudhu sebelum masuk waktu (shalat).”
Kemudian dibangkitkan suatu golongan, yang wajahnya seperti matahari maka golongan ini menjawab, “Adalah kami yang mendengar adzan di masjid...”
Diberitakan bahwa ulama-ulama terdahulu (salaf) meratapi dirinya selama tiga hari apabila tertinggal takbir pertama pada shalat jama’ah. Dan meratapi dirinya selama tujuh hari apabila tertinggal shalat berjama’ah.
1.5. Keutamaan Sujud
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda,
Dikisahkan bahwasanya seorang lelaki berkata kepada baginda Nabi saw,... “Bermohonlah kepada Allah Ta’ala agar kiranya Dia menjadikan saya termasuk diantara orang-orang yang mendapat syafa’atmu, dan diberikanNya saya rezki untuk menemanimu dalam surga!….” Rasululah saw, pun kemudian menjawab,..
Ada yang mengatakan,…
“Saat yang paling dekat seorang hamba kepada Allah adalah bahwa ia seorang yang sujud.”
Itulah maksud firman Alah Ta’ala:
“Wasjud waqtarib…”
“Dan sujudlah dan dekatkanlah diri kepada Allah.” (Qs. Al Alaq 19)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dimuka mereka ada tanda-tanda bekas sujud.” (Qs. Al Fath 29).
Ada yang mengatakan,…
Yaitu apa yang tersentuh dengan mukanya dari bumi ketika sujud.
Ada yang mengatakan, yaitu nur khusyu’ yang menembus cemerlang dari bathinnya kepada lahir. Inilah yang benar. Dan ada yang mengatakan, yaitu cahaya gemilang yang ada pada mukanya di hari qiamat dari bekas wudlu.
Rasulullah saw bersabda,
“Apabila anak Adam membaca (ayat sajadah [ayat yang disunatkan sujud sesudah membacanya]), kemudian ia sujud, maka pergilah setan memencilkan diri sambil menangis dan berkata:… “Alangkah celakanya aku!... orang ini disuruh sujud lalu ia sujud maka baginya surga. Aku disuruh sujud, lalu aku durhaka, maka bagiku neraka…”
Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas, bahwa ia bersujud tiap-tiap hari seribu sujud. Dan orang banyak menggelarkan Ali ini dengan gelar “As-Sajjad”, artinya orang yang banyak sujud.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul-‘Aziz ra. tiada melakukan sujud selain di atas tanah.
Yusuf bin Asbath berkata,..
“Wahai para pemuda!..
Bersegeralah menggunakan masa sehatmu sebelum masa sakitmu!..
Maka tiadalah tinggal seorang yang aku gemari, selain orang yang menyempurnakan akan ruku’ dan sujudnya dan telah terdindinglah diantara aku dan ruku’ sujud itu (karena telah lanjut usianya).”
Sa’id bin Jubair berkata,..
“Tiada aku meminta tolong pada sesuatu di dunia ini, selain kepada sujud.”
Uqbah bin Muslim berkata,…
“Tidak ada suatu perkarapun pada seorang hamba yang lebih disukai oleh Allah, selain dari orang yang menyukai berjumpa dengan Dia. Dan tiadalah dari saat kehidupan hamba yang lebih dekat kepadaNya, selain dari saat dimana ia tersungkur bersujud kepadaNya.”
Abu Hurairah ra. berkata,..
“Yang lebih mendekati seorang hamba kepada Allah ‘Azza Wa Jalla ialah apabila ia bersujud, lalu memperbanyak do’a ketika itu.”
1.6. Keutamaan Khusyu’
Allah Ta’ala berrfirman:
Allah Ta’ala berfirman:
Allah Ta’ala berfirman:
Ada yang mengatakan mabuk dari angan-angan.
Dan ada yang mengatakan mabuk dari cinta kepada dunia.
Wahb berkata,…
“Yang dimaksudkan dengan mabuk itu secara lahirnya saja. Yaitu mengingat kepada mabuk dunia, karena diterangkan oleh Allah Ta'ala akan sebabnya dengan firmanNya: “Sampai kamu mengetahui apa yang kamu katakan.” Betapa banyak orang yang bershalat yang tidak minum khamar padahal dia tiada mengetahui apa yang dibacanya dalam shalat."
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya shalat itu
- Menetapkan hati,..
- Menundukkan diri,…
- Merendahkan hati,…
- Meratapi bathin,…
- Dan menyesali diri….
- Dan engkaupun meletakkan kedua tanganmu seraya membaca,…
“Ya Allah ya Tuhanku!.. Ya Allah ya Tuhanku!...”
Barangsiapa tidak berbuat demikian, Maka shalatnya itu penuh dengan kekurangan.”
Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-kitab yang dahulu,
“Tidaklah tiap-tiap orang yang mengerjakan shalat itu, Aku terima shalatnya. Aku hanya menerima shalatnya orang yang tawadhu’ karena keagunganKu, tiada takabur terhadap hamba-hambaKu dan memberi makanan kepada orang miskin yang lapar karena Aku.”
Rasulullah saw bersabda,..
Apabila tidak ada di dalam hatimu akan hal yang tersebut tadi, Yang mana itulah yang dimaksud dan apa yang dicari, karena sebuah keagungan dan penghayatan, maka apalah harganya dengan dzikirmu itu?…
Rasulullah saw bersabda kepada orang yang di berinya wasiat,…
Artinya:…
Mengucapkan selamat tinggal kepada diri-dirinya, kepada nafsu-syahwatnya dan kepada umurnya, serta senantiasa berjalan guna menuju Maula-nya,…
Sebagaimana Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
Allah Ta’ala berfirman,…
Rasulullah saw bersabda:
Shalat itu adalah munajah dengan Allah. Maka bagaimanakah adanya munajah itu beserta kelalaian?…
Bakr bin Abdullah berkata,…
“Wahai anak Adam!… Apabila engkau bermaksud masuk kepada Maula-mu tanpa izin dan berbicara dengan Dia tanpa juru bahasa, maka masukilah!…”
Lalu orang-orang pun bertanya,.. “Bagaimanakah yang demikian itu?...”
Maka menjawab Bakr bin Abdullah,… “Engkau lengkapkan wudlu-mu dan engkau masuk ke mihrabmu. Apabila engkau telah masuk kepada Maula-mu dengan tanpa izin itu, maka berbicaralah dengan Dia tanpa ada juru bahasa!.”
Siti Aisyah ra. berkata,…
“Adalah Rasulullah saw bercakap-cakap dengan kami dan kami pun bercakap-cakap dengan beliau. Maka apabila datang waktu shalat, seolah-olah beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenal beliau.”
Karena seluruh jiwa raga beliau saw tertuju kepada keagungan Allah ‘Azza Wa Jalla.
Rasulullah saw bersabda:
Adalah Nabi Ibrahim as. apabila berdiri untuk shalat, lalu terdengar detak jantungnya pada jarak dua mil.
Dan adalah Sa’id At Tunukhi apabila mengerjakan shalat, maka tiada putus-putusnya air matanya mengalir dari ke-dua pipinya ke atas janggutnya.
Rasulullah saw melihat seorang lelaki bermain-main dengan jenggotnya di dalam shalat, lalu beliau saw bersabda:
Diriwayatkan bahwa Al Hasan ketika itu memandang kepada seorang laki-laki yang bermain-main dengan batu dan berdo’a… “Ya Allah, ya Tuhanku!.. Kawinkanlah aku dengan bidadari!…”
Maka Al-Hasan berkata,.. “Seburuk-buruk peminang adalah kamu!… Kamu meminang bidadari, sedang kamu bermain-main dengan batu!…”
Ditanyakan kepada Khalf bin Ayyub,..
“Apakah lalat itu tidak mengganggu tuan didalam shalat, sehingga mungkin tuan perlu untuk mengusir lalat itu?...”
Khalf bin Ayyub menjawab,..
“Aku tidak membiasakan bagi diriku sesuatu yang seperti itu.”
Ditanyakan lagi kepada Khalf bin Ayyub,..
“Bagaimanakah tuan bisa tahan akan yang demikian itu?…”
Khalf Bin Ayyub menjawab,…
“Telah sampai cerita kepadaku bahwa penjahat-penjahat itu tahan dari pukulan cemeti-cemeti penguasa (sultan), supaya kemudian dikatakan,… “Bahwa si Anu itu tahan menderita.”, lalu mereka itu merasa bangga dengan yang demikian. Adapun aku berdiri dihadapan Rabb-ku, maka patutkah aku bergerak hanya karena seekor lalat?..”
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar, bahwa apabila beliau bermaksud mengerjakan shalat, maka beliau berkata kepada keluarganya,.. “Bercakap-cakap-lah kalian sesama kalian, aku tidak akan mendengar percakapan kalian itu!...”
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar tadi, bahwa pada suatu hari beliau mengerjakan shalat di masjid Jami’ basrah. Maka robohlah suatu sudut dari masjid itu. Lalu berkumpullah manusia kesana. Sedang Muslim tadi tiada mengetahuinya sama sekali, hingga selesainya ia dari shalatnya itu.
Adalah Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, apabila datang waktu shalat, maka bergemetarlah badan beliau dan berubahlah warna mukanya. Lalu orang-orang pun bertanya kepada beliau,.. “Apakah yang menimpa tuan, wahai Amirul Mukminin?..”
Beliau ra. pun menjawab,… “Telah datang waktu amanah yang didatangkan oleh Allah kepada langit dan bumi, maka semuanya itu enggan untuk menanggungnya dan khawatir akan mengkhianatinya dan aku pun menerimanya.”
Diriwayatkan dari Ali bin Al-Husain, bahwa apabila beliau mengambil wudlu maka pucatlah warna mukanya. Lalu bertanyalah keluarganya, “Apakah yang menimpamu ketika berwudlu?..”
Maka menjawab Ali bin Al-Husain,… “Tahukah kalian dihadapan siapa aku mau berdiri...”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.
bahwa beliau berkata,..
“Nabi Daud as. berdo’a dalam munajatnya:
“Yaa Rabbku!..
Siapakah yang mendiami rumahMu.
Dan dari siapakah yang Engkau terima akan shalatnya?…”
Maka Allah Ta’ala pun menurunkan wahyu kepada Daud as:
“Yaa Daud!…
Sesungguhnya yang mendiami rumahKu
dan yang Aku terima shalat darinya,
ialah orang yang merendahkan diri karena keagunganKu,…
Menghabiskan siangnya dengan mengingati Aku,
mencegah dirinya dari hawa nafsu karena Aku,…
memberi makanan kepada orang yang lapar,
memberi tempat kepada orang yang merantau
dan mengasihani orang yang mendapat mushibah.
Itulah orang yang bercahaya akan nur-nya pada segala langit laksana matahari.
Kalau ia berdo’a kepadaKu niscaya Aku terima…
Dan kalau ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri.
Aku jadikan baginya di dalam kebodohannya akan kasih sayang,…
Di dalam kelalaiannya akan peringatan,…
Dan di dalam kegelapannya akan nur yang terang benderang,….
Dia di dalam kalangan manusia adalah laksana surga firdaus pada lapisan surga yang paling tinggi, yang tiada kering sungainya dan tiada berubah buah-buahannya.”
Diriwayatkan dari Hatim Al-Asham ra.
Bahwa orang bertanya kepada beliau mengenai shalatnya,…
Maka beliau ra. pun menjawab,…
“Apabila tiba waktu shalat,…
Maka aku lengkapkan wudhuku,
dan aku datangi tempat dimana aku bermaksud mengerjakan shalat.
Maka aku duduk pada tempat itu,…
Sehingga berkumpullah seluruh anggota badanku.
Kemudian aku berdiri kepada shalatku,…
Aku jadikan Ka’bah diantara dua keningku,…
Titian shirathal mustaqim di bawah telapak kakiku,…
Surga di kananku,..
Neraka di kiriku,…
Malaikat maut di belakangku,…
Aku menyangka shalat ini adalah penghabisan akan shalatku,…
Kemudian aku berdiri di antara harap dan takut,…
Aku bertakbir dengan menyertakan tahqiq-nya,….
Aku membaca bacaan dengan bacaan yang baik..
Aku ruku’ dengan merendahkan diri,…
Aku sujud dengan khusyu’,…
Aku duduk atas punggung kiri…
Dan aku bentangkan belakang telapak kaki kiri,…
Aku tegakkan telapak kanan atas ibu jari kaki,…
Dan aku ikutkan keikhlasan hati….
Kemudian aku pun tiada mengetahui,…
Apakah shalatku itu diterima ataukah tidak.”
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Dua raka’at shalat dengan sempurna tafakkur adalah lebih baik daripada mengerjakan shalat semalam suntuk sedang hatinya itu lalai.”
1.7. Keutamaan Masjid dan Tempat shalat.
Allah Ta’ala berfirman,…
Rasulullah saw bersabda,
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda,…
Rasulullah saw bersabda:
Rasulullah saw bersabda,..
“Para Malaikat itu berdo’a atas salah seorang diantara kalian selama ia masih pada tempat shalatnya yang mana ia mengerjakan shalat pada tempat itu. Dengan do’a,… ”Ya Allah, sambungkanlah atasnya (shalli’alaihi)… Ya Allah, kasihilah ia,… Ya Allah, ampunilah ia.” Selama ia belum berhadast atau sebelum ia keluar dari mesjid…”
Rasulullah saw bersabda,..
“Akan datang pada akhir zaman, segolongan manusia dari ummatku yang mendatangi masjid. Lalu mereka duduk padanya dengan berhalqah-halqah (lingkaran-lingkaran kecil). Dzikir mereka adalah dunia dan cinta dunia. Janganlah kalian duduk-duduk dengan mereka, karena Allah tidak mempunyai keinginan terhadap mereka..”
Rasulullah saw bersabda,…
“Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman di dalam kitab-Nya:
“Sesungguhnya rumahKu di bumi ada-lah masjid-masjid. Dan sesungguhnya para pengunjungku di bumi adalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid. Maka keberuntungan bagi orang yang bersuci di dalam rumahnya kemu-dian ia berkunjung kepadaKu di rumah-Ku,… maka kewajiban atas Dia Yang dikunjungi untuk memuliakan para pengunjungNya.”
Rasulullah saw bersabda,..
Sa’id bin Al-Musayyab berkata:
“Barangsiapa duduk di dalam masjid, maka sesungguhnya ia duduk bersama Rabbnya. Maka tiada berhak ia berkata-kata melainkan perkataan yang baik.”
Diriwayatkan dalam perkataan sahabat (atsar) atau dalam hadits Nabi saw. bahwa: “Berbicara di dalam masjid itu memakan segala kebajikan, sebagaimana binatang ternak memakan rumput.”
An Nakha’I berkata,…
“Mereka berpendapat bahwa berjalan dalam malam yang gelap ke masjid adalah mewajibkan bagi surga.”
Anas bin Malik berkata,…
“Barangsiapa memasang lampu dalam masjid, niscaya senantiasalah para malaikat dan pemikul ‘Arsy memohonkan ampun baginya selama masih ada cahaya lampunya di dalam masjid itu.”
Ali karamallahu wajah berkata,…
“Apabila meninggal dunia seorang hamba, maka ia ditangisi oleh mushallanya dari bumi, dan oleh pembawa naik amalannya dari langit.”
Kemudian Ali membaca ayat,…
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Bumi menangisinya selama 40 pagi.”
‘Atha’ Al Khurasani berkata,…
“Tidaklah seorang hamba yang bersujud kepada Allah satu sujud pada suatu penjuru bumi, melainkan penjuru bumi itu naik saksi baginya pada hari kiamat dan menangisi kepadanya pada hari ia meninggal dunia.”
Anas bin Malik ra. berkata,…
“Tidaklah suatu penjuru bumi yang disebutkan nama Allah padanya dengan shalat atau dengan dzikir, melainkan penjuru bumi itu membanggakan diri dengan penjuru-penjuru bumi lain di-sekitarnya. Dan merasa gembira dengan mengingati Allah ‘Azza Wa Jalla sampai kepada lapisannya yang paling penghabisan dari tujuh lapisan bumi. Dan tidaklah seorang hamba yang bangun berdiri mengerjakan shalat melainkan terhiaslah bumi karenanya.”
Dan ada yang mengatakan,…
“Tiadalah suatu tempat yang ditempati padanya suatu kaum, melainkan jadilah tempat itu berdo’a kepada kaum tersebut atau mengutuk kaum tersebut.”
Allahumma shali ala sayidinna muhammad wa ala ali sayidinna muhammad...
<-- Sebelumnya Berikutnya -->
ثَلاَ ثَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلىَ كَثِيْبٍ مِنْ مِسْكٍ أَسْوَدَ لاَ يُهَوِّ لُهُمْ حِسَابٌ وَلاَ يَنَالُهُمْ فَزَعٌ حَتَّى يَفْرَغَ مِمَّا بَيْنِ النَّاسِ رَجُلٌ قَرَ أَ الْقُرْآنَ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله ِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّ بِقَوْمٍ َوهُمْ بِهِ رَاضُوْنَ وَرَجُلٌ أَذَّنَ فيِ مَسْجِدٍ وَدَعَا إِلىَ الله ِعَزَّ وَجَلَّ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَرَجُلٌ اُبْتُلِيَ بِالرِّزْقِ فيِ الدُّ نْيَا فَلَمْ يُشْغِلْهُ ذَلِكَ عَنْ عَمَلِ اْلآخِرَةِ
- Orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap akan Wajah Allah ‘Azza Wa Jalla dan menjadi Imam pada suatu kaum, dimana kaum itu pun senang kepadanya;
· Orang yang mengumandangkan adzan dalam masjid, dan berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena mengharap akan WajahNya; dan
· Orang yang berpenghidupan sempit di dunia, maka yang demikian itu tiada menyibukkannya dari berbuat amalan akhirat.”
(Hr. At Tirmidzi dari Ibnu Umar)
Rasulullah saw. bersabda,
لاَ يَسْمَعُ نِدَ اءَ الْمُؤَ ذِّنِ جِنُّ وَ لاَ إِنْسِ وَ لاَ شَيْءٌ ِإلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tiadalah yang mendengar seruan adzan dari orang yang beradzan, baik yang mendengar itu jin atau manusia ataupun sesuatu yang lain, melainkan naik saksi untuk orang yang beradzan itu pada hari kiamat.” (Hr. Bukhari dari Abdullah bin Yusuf)
Rasulullah saw. bersabda,
يَدُ الرَّحْمَنِ عَلَى رَ أْسِ الْمُؤَذِّنِ حَتَّى َيفْرَغَ مِنْ أَذَ اِنهِ
“Tangan Ar Rahman itu di atas kepala mu’adzin, sehingga selesailah ia dari adzannya.”
(Hr. Ath Thabrani dari Anas)
Ada yang menafsirkan mengenai firman Allah ‘Azza Wa Jalla:
وَ مَنْ أَحْسَنَ قَوْ لاً مِّمَنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Siapakah yang lebih ihsan perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah dan yang mengerjakan amal yang shalih.” (Qs. Fushilaat [41]:33)
Bahwa ayat ini turun mengenai para mu’adzin.
Rasulullah saw bersabda:
إِذَ ا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْ لُوْ ا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَ ذِّنُ
“Apabila kalian mendengar seruan (adzan), Maka ucapkanlah seperti apa yang di ucapkan oleh mu’adzin itu.” (Hr. Ath Thabrani)
Mengucapkan yang demikian itu adalah sunat, kecuali pada ucapan “Hayya ‘alash-shalaah, (marilah kita shalat)” dan “Hayya-‘alal-fallaah.” (marilah kita mencapai kemenangan).” Maka pada kedua ucapan tersebut diucapkan: “Laa haula wa laa quwataa illa billah… (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali beserta Allah).” Dan pada ucapan muadzin, “Qadqaamatish shalaah.” (Shalat telah berdiri).” Maka pendengar mengucapkan,
“Aqamahallahu wa adaamahaa maa daamatis samaawaatu wal ardl (Ditegakkan Allah shalat itu dan dikekalkanNya selama kekal langit dan bumi).” Dan pada tatswib, yaitu ucapan muadzin pada shalat subuh, “Ashshalaatu kahiruum minan nauum. (shalat itu lebih baik daripada tidur)”, Maka pendengarnya mengucapkan, “Shadaqta wa bararta wa nashahta...” (Engkau benar, engkau telah berbuat kebajikan dan engkau telah memberi nasehat)
Ketika selesai dari adzan, maka dibacakan do’a yaitu:
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ الـتَّامَّةِ وَالصَّلاَ ةِ الْقَائِمَةِ آَتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ
“Allahumma rabba haadzaihid da’wa-tit taammati wash-shalaati qaa-imati, aati muhammadanil wasiilata wal fadliilata wad darajatar rafii’ata wab-‘atshul maqamal mahmuudal ladzi wa’adtahu innaka laa tukhliful mii ‘ad,..”
“Ya Allah, ya Rabbi yang memiliki do’a ini yang sempurna dan shalat yang berdiri tegak, berikanlah kepada Muhammad washilah dan fadlillah dan derajat yang tinggi, dan bangkitkanlah ia pada maqaman mahmudan seperti yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tiada pernah menyalahi janji.”
Sa’id bin Al Musayyab berkata,…
“Barangsiapa mengerjakan shalat pada tanah sahara yang luas (tanah yang lapang), niscaya bershalat di kanannya seorang malaikat dan di kirinya seorang malaikat. Maka jika ia beradzan dan beriqamat, niscaya bershalatlah dibelakangnya para malaikat yang berbaris seperti bukit.”
1.2. Keutamaan shalat Fardhu.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلاَ ةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَّوْقوتًا
“Sesungguhnya shalat itu suatu kewajiban yang ditentukan waktunya untuk orang-orang yang beriman.” (Qs. An Nisaa’ [4]:103)
Rasulullah saw bersabda:
خَمْسُ صَلَو َاتٍ كَتَبَهُنَّ الله ُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ وَ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئاً اِسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ الله ِ عَهْدٌ أَنْ ُيدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ ِإنْ شَاءَ عَذَّ بَهُ وَ إِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ
Rasulullah saw bersabda:
مِثْلَ الصَّلَوَ اتِ الْخَمْسِ ... كَمَثَلِ نَهْرٍ عَذْبٍ غَمَرَ بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَقْتَحِمُ ِفيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّ اتٍ فَمَا تَرَ وْنَ ذَ لِكَ يَبْقَي ِمنْ دَرَ نِهِ ؟... قَالُوْ ا لاَ شَيْءَ . قَالَ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ... فَإِنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ تُذْهِبُ الذُّ نُوْبَ كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَّرَ نَ
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ الصَّلَوَاتِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
”Sesungguhnya shalat itu menghapus-kan dosa yang terjadi diantara (kedua shalat itu), selama bukan dosa besar.”
Rasulullah saw bersabda:
بـيـَـنْــنَـاَ وَ بَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ شُهُوْدُ الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لاَ يَسْتَطِيْعُوْ نَهُمَا
“Diantara kita dan orang-orang munafiq terdapat persaksian diwaktu gelap dan subuh, yang (dimana) orang-orang tidak mampu mengenali kedua (golongan) itu.”
Rasulullah saw bersabda
مَنْ ِلقَيَ الله َ وَهُوَ مُضِيْعٌ لِلصَّلاَةِ لَمْ يَعْبَأِ الله ُبِشَيْءٍ مِنْ حَسَنَاِتهِ
“Barangsiapa menjumpai Allah sedang ia menyia-nyiakan shalat, maka tidaklah di indahkan oleh Allah sedikitpun akan kebaikan-kebaikannya”
Rasulullah saw bersabda:
اَلصَّلاَ ةُ عِمَادُ الدِّ يْنِ .فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّ يْنَ
”Shalat itu tiang Ad-Diin. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia telah meruntuhkan Ad-Diin.”
Ketika itu ditanyakan kepada Rasulullah saw, “Amalan apakah yang lebih utama?...”
Beliau saw. bersabda,...
الصَّلاَ ةُ لِمَوَاقِيْتِهَا
“Shalat pada waktunya.”
Rasulullah saw bersabda:
مَــنْ حَافَـــظَ عَلَى الْـخَمْسِ بِــإِكْمَالِ طُــهُـوْرِهَا وَمـَو َ اقِــيْــتِــهَا كَا نـَتْ لَهُ نُـوْرً ا وَبُـرْهَا نًـا يَـوْمَ الْـقِـيَامَـةِ وَ مَـــنْ ضَــيَّــعَـهَا حُـشِرَ مَعَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ
Rasulullah saw bersabda:
مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلاَ ةُ
“Kunci Surga adalah shalat.“
Rasulullah saw bersabda:
مَا افْتَرَضَ الله ُ عَلَى خَلْقِهِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الصَّلاَ ةِ وَ لَوْ كَانَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْهَا لِتَعَبَّدَ بِهِ مَلاَ ئِكَتُهُ فَمِنْهُمْ رَ اكِعٌ وَمِنْهُمْ سَاجِدٌ وَمِنْهُمْ قَائِمٌ وَقَاعِدٌ
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلاَ ةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka kufurlah ia.”
Artinya, hampir tercerabutnya akan iman dengan terbukanya tali dan jatuhnya tiang.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَّلاَ ةً مُتَعَمِّدً ا فَقَدْ بَرِىءَ مِنْ ذِمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka terlepaslah ia dari tanggungan Muhammad saw.“
Abu Hurairah ra. berkata:
“Barangsiapa berwudlu, kemudian ia meng-ihsan-kan wudlunya, Kemudian ia keluar dengan sengaja untuk shalat, maka sesungguhnya ia di dalam shalat yang sengaja ia kepada shalat itu, dituliskan baginya dengan salah satu dari dua langkahnya itu sebagai hasanah (kebaikan), dan dihapuskan daripadanya dengan langkah yang satunya lagi akan sayiah-nya (keburukannya). Apabila salah seorang dari kalian mendengar iqamat, maka tidaklah wajar bagi kalian untuk mengemudiankannya. Sesungguhnya yang terbesar pahalanya bagi kalian ialah yang terjauh rumahnya diantara kalian!...”
Hadirin kemudian bertanya,…“Mengapa demikian, yaa Abu Hurairah?…”
Beliau ra. menjawab,.. “Karena banyak akan langkahnya…”
Diriwayatkan,
إِنَّ أَوَّ لَ مَا يُنْظَرُ فِيْهِ مِنْ عَمَلِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَ ةُ
“Sesungguhnya yang pertama yang diperhatikan dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.”
Kalaupun kemudian terdapat akan shalatnya itu sempurna, niscaya diterima shalat itu daripadanya dan juga amalannya yang lain. Dan kalau terdapat kurang, niscaya ditolak akan shalatnya itu dari padanya dan juga amalannya yang lain.
Rasulullah saw bersabda:
يَا أَبَا هُرَ يْرَ ةَ مُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَ ةِ فَإِنَّ الله َ يَأْتِيْكَ بِالرِّزْقِ مِنْ حَيْثُ لاَ تَحْتَسِبُ
“Yaa Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu (ahli-mu) dengan shalat!...
Sesungguhnya Allah mendatangkan rizki bagimu dari sisi yang tidak Dia hisab.”
Sebagian Ulama berkata,…
“Orang yang mengerjakan shalat itu adalah seumpama seorang saudagar yang tidak memperoleh keuntungan sebelum kembali akan modalnya. Demikian juga orang yang mengerjakan shalat, tidak diterima yang sunat sebelum ditunaikannya yang fardhu.”
Abu Bakar ra. berkata,…
“Apabila telah datang waktu shalat, maka pergilah ke apimu yang telah kamu nyalakan, lalu padamkanlah api itu.!...”
1.3. Keutamaan Menyempurnakan Rukun.
Rasulullah saw bersabda,..
مَثَلُ الصَّلاَ ةِ الْمَكْتُوْ بَةِ كَمَثَلِ الْمِيْزَ انِ مَنْ أَوْفَى اسْتَوْفَى
“Perumpamaan shalat fardhu adalah seumpama al-mizan,…
barangsiapa yang memenuhinya, maka ia dipandang penuh.”
“Adalah shalat Rasulullah saw itu sama, seolah-olah sudah ditimbang.”
Rasulullah saw, bersabda,...
ِإنَّ الرَّجُلَيْنِ مِنْ أُ مَّتِي لَيَقُوْمَانِ ِإلَى الصَّلاَ ةِ وَرُكُوْعِهِمَا وَسُجُوْدِهِمَا وَ احِدٌ وَ إِنَّ مَا بَيْنَ صَلاَ تَيْهِمَا مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ
Diisyaratkan Nabi saw, dengan sabdanya itu untuk “Khusyu”
Rasulullah saw bersabda,…
لاَ يَنْظُرُ الله ُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْعَبْدِ لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ
”Pada hari kiamat Allah tidak memandang kepada seorang hamba yang tidak menegakkan tulang sulbinya di antara ruku’ dan sujud.”
Rasulullah saw. bersabda,…
أَ مَا يَخَافُ الَّذِي يُحَوِّل وَجْهَهُ فيِ الصَّلاَةِ أَنْ يُحَوِّلَ الله ُ وَجْهَهُ وَجْهَ حِمَارٍ
”Tidakkah takut orang yang mengalihkan mukanya di dalam shalat, bahwa Allah mengalihkan mukanya menjadi muka keledai.“
مَنْ صَلَّى صَلاَ ةً لِوَ قْتِهَا وَأَسْبَغَ وُضُوْءَهَا وَ أَ تَمَّ رُكُوْعَهَا وَسُجُوْدَهَا وَخُشُوْعَهَا عَرَجَتْ وَهِيَ بَيْضَاءُ مُسْفِرَ ةٌ تَقُوْلُ حَفِظَكَ الله ُكَمَا حَفِظْتَنِي وَمَنْ صَلَّى لِغَيْرِ وَقْتِهَا وَلَمْ يُسْبِغْ وُضُوْءَهَا وَلَمْ يُتِمَّ رُكُوْعَهَا
وَ لاَ سُجُوْدَهَا وَ لاَ خُشُوْعَهَا عَرَجَتْ وَهِيَ سَوْدَ اءُ مُظْلِمَةٌ تَقُوْلُ ضَيَّعَكَ الله ُ كَمَا ضَيَّعْتَنِيْ حَتَّى إِذَا كَانَتْ حَيْثُ شَاءَ الله ُ لَفَّتْ كَمَا يُلَفَّ الثَّوْبُ الْخَلْقُ فَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُهُ
Barangsiapa mengerjakan shalat pada bukan waktunya dan tidak melengkapkan wudlunya, tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya dan khusyu’nya, niscaya shalat itu naik dengan warna yang hitam gelap, seraya mengatakan,... “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakan aku...” Sehingga -apabila dikehendaki oleh Allah- maka shalat itu, dilipatkan sebagaimana dilipatkannya kain yang buruk, maka dipukulkanlah dengan shalat itu ke mukanya.”
Rasulullah saw bersabda,
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ
“Sejahat-jahat manusia yang mencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.”
Ibnu Mas’ud dan Salman ra. berkata,.
“Shalat itu adalah takaran (mikyala), barangsiapa yang menyempurnakannya niscaya ia menerima kesempurnaannya. Maka barangsiapa yang mengurangi di dalam takaran, maka tahulah ia akan apa yang difirmankan Allah mengenai orang-orang yang mengurangi pada takaran.”
1.4. Keutamaan Shalat Jama’ah
Rasulullah saw bersabda:
صَلاَ ةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَ ةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِ ين َ دَرَجَةً
”Shalat berjama’ah itu melebihi dari shalat sendirian dengan dua puluh derajat.”
Dikisahkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ketika itu Rasulullah saw. tidak melihat sebagian orang pada shalat berjama’ah, lalu beliau saw. bersabda:
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آ مُرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أُخَالِفُ إِلىَ رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنْهَا فَأُحَرِّقَ بُيُوْتَهُمْ
“Sungguh aku bercita-cita menyuruh seseorang untuk menjadi imam yang mengimami shalatnya orang banyak. Kemudian aku sendiri mencari orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah itu, lalu aku bakar rumah-rumahnya.”
Pada riwayat lain,…
ثُمَّ أُخَالِفُ إِلَى رِجَاٍل يَتَخَلَّفُوْنَ عَنْهَا فَآَمُرُ بِهِمْ فَتُحَرَّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوْتُهُمْ بِحَزْمِ الْحَطَبِ وَ لَوْ عَلِمَ أَحَدُهُمْ أَ نَّهُ يَجِدُ عَظْمًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَا تَيْنِ لَشَهِدَهَا يَعْنِي صَلاَ ةَ الْعِشَاءِ
“Kemudian aku mencari orang-orang yang meninggalkan shalat jama’ah itu maka aku suruh mereka. Lalu kalau (pun mereka) meninggalkan juga, maka rumah mereka dibakar dengan unggu-nan kayu api. Jikalau tahulah seseorang dari mereka bahwa ia akan memperoleh tulang yang gemuk atau dua kuku hewan niscaya dihadirinya.” Yakni shalat isya.
Ustman ra. berkata yang dimana perkataanya itu adalah suatu hadits marfu’,
“Rasulullah saw bersabda,…
مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فَكَأَ نَّمَا قَامَ نِصْفَ لَيْلَةٍ وَمَنْ شَهِدَ الصُّبْحَ فَكَأَ نَّمَا قَامَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang menyaksikan Isya’ maka seolah-olah ia mendirikan setengah malam; dan barangsiapa yang menyaksikan subuh maka seolah-olah ia mendirikan satu malam.”
مَنْ صَلَّى صَلاَ ةً فيِ جَمَاعَةٍ فَقَدْ مَلأََ نَحْرَهُ عِبَادَةً
“Barangsiapa mengerjakan suatu shalat dengan berjama’ah,
maka ia telah memenuhkan dadanya dengan pengabdian.”
“Tidaklah seorang muadzin yang melakukan adzan semenjak dua puluh tahun yang lampau, melainkan saya ada di dalam masjid.”
Muhammad bin Wasi’ berkata,…
“Tidaklah aku merindukan dari dunia ini selain dari tiga hal, yaitu:
- saudara, yang jikalau aku bengkok, maka ia meluruskanku…
- makanan dari rezki yang aku peroleh dengan mudah tanpa menuruti kata orang lain…
- dan shalat berjama’ah, yang aku tidak melupakannya, dan dituliskannya akan keutamaannya bagiku.”
Dikisahkan bahwa Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah pada suatu kali menjadi Imam shalat dari suatu kaum. Tatkala hendak pergi, lalu beliau berkata, “Terus menerus setan menghampiriku tadi, sampai setan itu menampakkan kepadaku, bahwa aku mempunyai kelebihan dari orang lain, maka dari itu, aku tidak mau menjadi imam shalat selama-lamanya.”
Al Hasan berkata,…
“Janganlah engkau shalat di belakang orang yang tiada bergaul dengan ‘ulama.”
An Nakha’i berkata,…
“Orang yang menjadi imam shalat dari orang yang banyak yang tanpa ilmu adalah seumpama orang yang menyukat air di dalam laut, yang tidak mengetahui akan tambahannya dari pada kekurangannya.”
Hatim Al Asham berkata,…
“Saya telah tertinggal suatu shalat berjama’ah, lalu Abu Ishak Al Bukhari menghiburku sendirian. Dan seandainya anakku meninggal dunia, maka aku dihibur oleh lebih dari 10.000 orang, karena bahaya yang menimpa agama dipandang manusia lebih mudah daripada bahaya yang menimpa dunia.”
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Barangsiapa yang mendengar suara penyeru (suara muadzin) dan tidak menjawabnya (memenuhinya), maka dia adalah orang yang tidak menghendaki kebajikan, dan kebajikan itu pun tiada berkehendak kepadanya.”
Abu Hurairah ra. berkata,…
“Adalah lebih baik bagi anak Adam, telinganya penuh dengan timah hancur daripada mendengar adzan yang tidak dijawabnya.”
Dikisahkan bahwa Maimun bin Mahran datang ke Mesjid, lalu orang-orang mengatakan kepada beliau bahwa orang ramai sudah pulang (karena shalat berjama’ah telah selesai), Maka Maimun menjawab, “Inna lillahi wa inna illaihi raaji’uun!... Sesungguhnya keutamaan shalat ini (shalat jama’ah) adalah lebih baik bagiku daripada menjadi wali negeri Irak.”
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ صَلَّى أَرْ بَعِيْنَ يَوْمًا الصَّلَوَ اتِ فيِ جَمَاعَةٍ لاَ تَفُو ْتُهُ فِيْهَا تَكْبِيْرَ ةُ اْلإِحْرَ امِ كَتَبَ الله ُ لَهُ بَرَ اءَ تَيْنِ بَرَ اءَ ةً مِنَ النِّفَاقِ وَ بَرَ اءَ ةً مِنَ النَّارِ
Ada yang mengatakan bahwa pada hari kiamat dibangkitkan dari kubur suatu kaum, wajah mereka berseri-seri seperti bintang yang berkilauan. Maka malaikat pun bertanya kepada mereka, “Apakah amal perbuatanmu dahulu?...” Mereka menjawab,… “Adalah kami yang apabila mendengar adzan, lalu kami bangun bersuci dan tidak di ganggu oleh hal yang lain.”
Kemudian dibangkitkan dari kubur suatu golongan, yang wajahnya seperti rembulan, maka menjawab golongan ini sesudah ditanya: “Adalah kami yang berwudhu sebelum masuk waktu (shalat).”
Kemudian dibangkitkan suatu golongan, yang wajahnya seperti matahari maka golongan ini menjawab, “Adalah kami yang mendengar adzan di masjid...”
Diberitakan bahwa ulama-ulama terdahulu (salaf) meratapi dirinya selama tiga hari apabila tertinggal takbir pertama pada shalat jama’ah. Dan meratapi dirinya selama tujuh hari apabila tertinggal shalat berjama’ah.
1.5. Keutamaan Sujud
Rasulullah saw bersabda:
مَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلىَ الله ِ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ سُجُوْدٍ خَفِيٍّ
“Tidaklah seorang hamba itu bertaqarub kepada Allah dengan sesuatu yang lebih utama selain daripada sujud yang tersembunyi.”
Rasulullah saw bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَسْجُدُ ِللهِ سَجْدَ ةً إِلاَّ رَ فَعَهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً
“Tidaklah seorang muslim bersujud kepada Allah dengan satu sujud, melainkan ia diangkatkan oleh Allah satu derajat dan dihapuskannya dari padanya satu sayi’ah karenanya.”
Dikisahkan bahwasanya seorang lelaki berkata kepada baginda Nabi saw,... “Bermohonlah kepada Allah Ta’ala agar kiranya Dia menjadikan saya termasuk diantara orang-orang yang mendapat syafa’atmu, dan diberikanNya saya rezki untuk menemanimu dalam surga!….” Rasululah saw, pun kemudian menjawab,..
أَعِنِّي بِكَثْرَ ةِ السُّجُوْدِ
“Tolonglah aku dengan memperbanyak sujud.”
Ada yang mengatakan,…
“Saat yang paling dekat seorang hamba kepada Allah adalah bahwa ia seorang yang sujud.”
Itulah maksud firman Alah Ta’ala:
“Wasjud waqtarib…”
“Dan sujudlah dan dekatkanlah diri kepada Allah.” (Qs. Al Alaq 19)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dimuka mereka ada tanda-tanda bekas sujud.” (Qs. Al Fath 29).
Ada yang mengatakan,…
Yaitu apa yang tersentuh dengan mukanya dari bumi ketika sujud.
Ada yang mengatakan, yaitu nur khusyu’ yang menembus cemerlang dari bathinnya kepada lahir. Inilah yang benar. Dan ada yang mengatakan, yaitu cahaya gemilang yang ada pada mukanya di hari qiamat dari bekas wudlu.
Rasulullah saw bersabda,
إِذَا قَرَ أَ ا بْنُ آ دَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اِعْتَزَ لَ الشَّيْطَانُ يَبْكِيْ وَ يَقُوْلُ يَا وَ يْلاَهْ أُمِرَ هَذابِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ أَنَا بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلىِ النَّارُ
Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas, bahwa ia bersujud tiap-tiap hari seribu sujud. Dan orang banyak menggelarkan Ali ini dengan gelar “As-Sajjad”, artinya orang yang banyak sujud.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul-‘Aziz ra. tiada melakukan sujud selain di atas tanah.
Yusuf bin Asbath berkata,..
“Wahai para pemuda!..
Bersegeralah menggunakan masa sehatmu sebelum masa sakitmu!..
Maka tiadalah tinggal seorang yang aku gemari, selain orang yang menyempurnakan akan ruku’ dan sujudnya dan telah terdindinglah diantara aku dan ruku’ sujud itu (karena telah lanjut usianya).”
Sa’id bin Jubair berkata,..
“Tiada aku meminta tolong pada sesuatu di dunia ini, selain kepada sujud.”
Uqbah bin Muslim berkata,…
“Tidak ada suatu perkarapun pada seorang hamba yang lebih disukai oleh Allah, selain dari orang yang menyukai berjumpa dengan Dia. Dan tiadalah dari saat kehidupan hamba yang lebih dekat kepadaNya, selain dari saat dimana ia tersungkur bersujud kepadaNya.”
Abu Hurairah ra. berkata,..
“Yang lebih mendekati seorang hamba kepada Allah ‘Azza Wa Jalla ialah apabila ia bersujud, lalu memperbanyak do’a ketika itu.”
1.6. Keutamaan Khusyu’
Allah Ta’ala berrfirman:
وَأَقِمِ الصَّلاَ ةَ لِذِكْرِيْ
“Tegakkanlah shalat untuk mengingati Aku.” (Qs. Thaa Haa 14)
Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَكُنْ مِّنَ الْغَافِلِيْنَ
“Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai..” (Qs. Al-A’raaf 205)
Allah Ta’ala berfirman:
لاَ تَقْرَ بُوْا الصَّلوةَ وَ أَنتُْمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
“Janganlah kamu hampiri shalat ketika kamu sedang mabuk, sampai kamu mengetahui apa yang kamu katakan.” (Qs. An Nisaa 43)
Ada yang mengatakan mabuk dari angan-angan.
Dan ada yang mengatakan mabuk dari cinta kepada dunia.
Wahb berkata,…
“Yang dimaksudkan dengan mabuk itu secara lahirnya saja. Yaitu mengingat kepada mabuk dunia, karena diterangkan oleh Allah Ta'ala akan sebabnya dengan firmanNya: “Sampai kamu mengetahui apa yang kamu katakan.” Betapa banyak orang yang bershalat yang tidak minum khamar padahal dia tiada mengetahui apa yang dibacanya dalam shalat."
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ فِيْهِمَا بِشَيْءٍ مِنَ الدُّ نيْاَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَ نْبِهِ
“Barangsiapa mengerjakan shalat dua raka’at, dimana ia tidak berbicara de-ngan dirinya dalam dua raka’at itu mengenai sesuatu dari urusan duniawi, niscaya diampuni akan dosanya yang terdahulu.”
Rasulullah saw bersabda:
ِإ نَّمَا الصَّلاَ ةُ تُمَسْكِنُ وَ تُوَاضِعُوْ ا وَ تَضَرَّ عُ وَ تَأَوَّهُ وَ تُنَادِمُ وَ تَضَعُ يَدَ يْكَ فَتَقُوْلُ اَللَّهُمَّ اللَّهُمَّ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَهِيَ خِدَ اجٌ
“Sesungguhnya shalat itu
- Menetapkan hati,..
- Menundukkan diri,…
- Merendahkan hati,…
- Meratapi bathin,…
- Dan menyesali diri….
- Dan engkaupun meletakkan kedua tanganmu seraya membaca,…
“Ya Allah ya Tuhanku!.. Ya Allah ya Tuhanku!...”
Barangsiapa tidak berbuat demikian, Maka shalatnya itu penuh dengan kekurangan.”
Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-kitab yang dahulu,
ليس كل مصل أتقبل صلاته إنما أقبل صلاة من تواضع لعظمتي ولم يتكبر على عبادي وأطعم الفقير الجائع لوجهي
Rasulullah saw bersabda,..
ِإ نَّمَا فُرِضَتِ الصَّلاَ ةُ وَ أُمِرَ بِاْلحَجِّ وَالطَّوَافِ وَأُشْعِرَتِ الْمَنَاسِكَ ِلإِقَامَةِ ذِكْرِ الله ِتَعَالىَ
“Sesungguhnya diwajibkannya shalat, disuruh mengerjakan haji dan thawaf dan disuruh syi’arkannya segala ibadah hajji itu adalah karena menegakkan dzikrillahi Ta’ala.”
Rasulullah saw bersabda kepada orang yang di berinya wasiat,…
وَ إِذَ ا صَلَّيْتَ فَصَلِّ صَلاَ ةَ مُوَدِّعٍ
“Apabila kamu mengerjakan shalat, maka bershalatlah sebagai shalat yang mengucapkan selamat tinggal.”
Artinya:…
Mengucapkan selamat tinggal kepada diri-dirinya, kepada nafsu-syahwatnya dan kepada umurnya, serta senantiasa berjalan guna menuju Maula-nya,…
Sebagaimana Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَ يُهَا اْلإِ نْسَانُ إِ نَّكَ كَادِ حٌ ِإلَى رَ بِّكَ كَدْحًا فَمُلَقِيْهِ
“Yaa Al-Insaan!. sungguh engkau telah bekerja keras dengan sungguh sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya…”(Qs. Al Insyiqaq [84]:6)
Allah Ta’ala berfirman,…
وَا تَّقُوْا الله َ . وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
“Dan bertaqwalah kepada Allah, dan Allah mengajarimu..” (Qs. Al Baqarah 282)
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَ تُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ الله ِ إِلاَّ بُعْدً ا
“Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan fahsya dan munkar, maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan jauhnya.”
Bakr bin Abdullah berkata,…
“Wahai anak Adam!… Apabila engkau bermaksud masuk kepada Maula-mu tanpa izin dan berbicara dengan Dia tanpa juru bahasa, maka masukilah!…”
Lalu orang-orang pun bertanya,.. “Bagaimanakah yang demikian itu?...”
Maka menjawab Bakr bin Abdullah,… “Engkau lengkapkan wudlu-mu dan engkau masuk ke mihrabmu. Apabila engkau telah masuk kepada Maula-mu dengan tanpa izin itu, maka berbicaralah dengan Dia tanpa ada juru bahasa!.”
Siti Aisyah ra. berkata,…
“Adalah Rasulullah saw bercakap-cakap dengan kami dan kami pun bercakap-cakap dengan beliau. Maka apabila datang waktu shalat, seolah-olah beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenal beliau.”
Karena seluruh jiwa raga beliau saw tertuju kepada keagungan Allah ‘Azza Wa Jalla.
Rasulullah saw bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى صَلاَ ةٍ لاَ يُحْضِرُ الرَّجُلُ فِيْهَا قَلْبَهُ مَعَ بَدَ نِهِ
“Allah tidak memandang kepada shalatnya seseorang yang padanya ia tidak menghadirkan hati-nya bersama badannya.”
Dan adalah Sa’id At Tunukhi apabila mengerjakan shalat, maka tiada putus-putusnya air matanya mengalir dari ke-dua pipinya ke atas janggutnya.
Rasulullah saw melihat seorang lelaki bermain-main dengan jenggotnya di dalam shalat, lalu beliau saw bersabda:
لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَ ا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ
“Jikalau hati orang ini khusyu’ niscaya khusyu’-lah anggota badannya.”
Diriwayatkan bahwa Al Hasan ketika itu memandang kepada seorang laki-laki yang bermain-main dengan batu dan berdo’a… “Ya Allah, ya Tuhanku!.. Kawinkanlah aku dengan bidadari!…”
Maka Al-Hasan berkata,.. “Seburuk-buruk peminang adalah kamu!… Kamu meminang bidadari, sedang kamu bermain-main dengan batu!…”
Ditanyakan kepada Khalf bin Ayyub,..
“Apakah lalat itu tidak mengganggu tuan didalam shalat, sehingga mungkin tuan perlu untuk mengusir lalat itu?...”
Khalf bin Ayyub menjawab,..
“Aku tidak membiasakan bagi diriku sesuatu yang seperti itu.”
Ditanyakan lagi kepada Khalf bin Ayyub,..
“Bagaimanakah tuan bisa tahan akan yang demikian itu?…”
Khalf Bin Ayyub menjawab,…
“Telah sampai cerita kepadaku bahwa penjahat-penjahat itu tahan dari pukulan cemeti-cemeti penguasa (sultan), supaya kemudian dikatakan,… “Bahwa si Anu itu tahan menderita.”, lalu mereka itu merasa bangga dengan yang demikian. Adapun aku berdiri dihadapan Rabb-ku, maka patutkah aku bergerak hanya karena seekor lalat?..”
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar, bahwa apabila beliau bermaksud mengerjakan shalat, maka beliau berkata kepada keluarganya,.. “Bercakap-cakap-lah kalian sesama kalian, aku tidak akan mendengar percakapan kalian itu!...”
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar tadi, bahwa pada suatu hari beliau mengerjakan shalat di masjid Jami’ basrah. Maka robohlah suatu sudut dari masjid itu. Lalu berkumpullah manusia kesana. Sedang Muslim tadi tiada mengetahuinya sama sekali, hingga selesainya ia dari shalatnya itu.
Adalah Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, apabila datang waktu shalat, maka bergemetarlah badan beliau dan berubahlah warna mukanya. Lalu orang-orang pun bertanya kepada beliau,.. “Apakah yang menimpa tuan, wahai Amirul Mukminin?..”
Beliau ra. pun menjawab,… “Telah datang waktu amanah yang didatangkan oleh Allah kepada langit dan bumi, maka semuanya itu enggan untuk menanggungnya dan khawatir akan mengkhianatinya dan aku pun menerimanya.”
Diriwayatkan dari Ali bin Al-Husain, bahwa apabila beliau mengambil wudlu maka pucatlah warna mukanya. Lalu bertanyalah keluarganya, “Apakah yang menimpamu ketika berwudlu?..”
Maka menjawab Ali bin Al-Husain,… “Tahukah kalian dihadapan siapa aku mau berdiri...”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.
bahwa beliau berkata,..
“Nabi Daud as. berdo’a dalam munajatnya:
“Yaa Rabbku!..
Siapakah yang mendiami rumahMu.
Dan dari siapakah yang Engkau terima akan shalatnya?…”
Maka Allah Ta’ala pun menurunkan wahyu kepada Daud as:
“Yaa Daud!…
Sesungguhnya yang mendiami rumahKu
dan yang Aku terima shalat darinya,
ialah orang yang merendahkan diri karena keagunganKu,…
Menghabiskan siangnya dengan mengingati Aku,
mencegah dirinya dari hawa nafsu karena Aku,…
memberi makanan kepada orang yang lapar,
memberi tempat kepada orang yang merantau
dan mengasihani orang yang mendapat mushibah.
Itulah orang yang bercahaya akan nur-nya pada segala langit laksana matahari.
Kalau ia berdo’a kepadaKu niscaya Aku terima…
Dan kalau ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri.
Aku jadikan baginya di dalam kebodohannya akan kasih sayang,…
Di dalam kelalaiannya akan peringatan,…
Dan di dalam kegelapannya akan nur yang terang benderang,….
Dia di dalam kalangan manusia adalah laksana surga firdaus pada lapisan surga yang paling tinggi, yang tiada kering sungainya dan tiada berubah buah-buahannya.”
Diriwayatkan dari Hatim Al-Asham ra.
Bahwa orang bertanya kepada beliau mengenai shalatnya,…
Maka beliau ra. pun menjawab,…
“Apabila tiba waktu shalat,…
Maka aku lengkapkan wudhuku,
dan aku datangi tempat dimana aku bermaksud mengerjakan shalat.
Maka aku duduk pada tempat itu,…
Sehingga berkumpullah seluruh anggota badanku.
Kemudian aku berdiri kepada shalatku,…
Aku jadikan Ka’bah diantara dua keningku,…
Titian shirathal mustaqim di bawah telapak kakiku,…
Surga di kananku,..
Neraka di kiriku,…
Malaikat maut di belakangku,…
Aku menyangka shalat ini adalah penghabisan akan shalatku,…
Kemudian aku berdiri di antara harap dan takut,…
Aku bertakbir dengan menyertakan tahqiq-nya,….
Aku membaca bacaan dengan bacaan yang baik..
Aku ruku’ dengan merendahkan diri,…
Aku sujud dengan khusyu’,…
Aku duduk atas punggung kiri…
Dan aku bentangkan belakang telapak kaki kiri,…
Aku tegakkan telapak kanan atas ibu jari kaki,…
Dan aku ikutkan keikhlasan hati….
Kemudian aku pun tiada mengetahui,…
Apakah shalatku itu diterima ataukah tidak.”
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Dua raka’at shalat dengan sempurna tafakkur adalah lebih baik daripada mengerjakan shalat semalam suntuk sedang hatinya itu lalai.”
1.7. Keutamaan Masjid dan Tempat shalat.
Allah Ta’ala berfirman,…
إِ نَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ
“Hanyalah yang berhak memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir.” (Qs. Al Taubah, 18)
مَنْ بَنَى لِلَّهُ مَسْجِدً ا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قُطَاةٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرً ا فيِ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membangun masjid untuk Allah, walaupun seperti sarang burung, maka Allah membangunkan mahligai baginya di surga.”
مَنْ أَلِفَ الْمَسْجِدَ أَ لِفَهُ اللَّهُ تَعَالَى
“Barangsiapa mencintai masjid maka Allah Ta’ala mencintainya.”
Rasulullah saw bersabda,…
إِذَ ا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Apabila salah seorang diantara kalian masuk ke mesjid, maka hendaklah ia ruku’ (mengerjakan shalat) dua raka’at sebelum duduk.”
Rasulullah saw bersabda:
لاَ صَلاَ ةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فيِ الْمَسْجِدِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid, melainkan dalam mesjid.”
Rasulullah saw bersabda,..
اَلْمَلاَ ئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فيِ مُصَلاَّ هُ الَّذِيْ يُصَلِّي فِيْهِ تَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ... اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ...اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ... مَا لَمْ يُحْدِثْ أَوْ يَخْرُجْ مِنَ الْمَسْجِدِ
Rasulullah saw bersabda,..
يَأْتِي فيِ آَخِرِ الزَّمَانِ نَا سٌ مِنْ أُمَّتِي يَأْتُوْنَ الْمَسَاجِدَ فَيَقْعُدُوْنَ فِيْهَا حَلَقًا حَلَقًا ذِكْرُهُمُ الدُّ نْيَا وَحُبُّ الدُّ نْيَا لاَ تُجَالِسُوْهُمْ فَلَيْسَ لِلَّهِ بِهِمْ حَاجَةٌ
“Akan datang pada akhir zaman, segolongan manusia dari ummatku yang mendatangi masjid. Lalu mereka duduk padanya dengan berhalqah-halqah (lingkaran-lingkaran kecil). Dzikir mereka adalah dunia dan cinta dunia. Janganlah kalian duduk-duduk dengan mereka, karena Allah tidak mempunyai keinginan terhadap mereka..”
Rasulullah saw bersabda,…
“Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman di dalam kitab-Nya:
إِنَّ بُيُوْتِي فيِ أَرْضِي اَلْمَسَاجِدُ وَإِنَّ زُوَّ ارِي فِيْهَا عُمَّارُهَا فَطُوْ بَى لِعَبْدٍ تَطَهَّرَ فيِ بَيْتِهِ ثُمَّ زَارَ نِي فيِ بَيْتِيْ فَحَقٌّ عَلَى الْمَزُوْرِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ
Rasulullah saw bersabda,..
إِذَا رَ أَ يْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاَشْهِدُوْا لَهُ بِاْلإِ يْمَانِ
“Apabila kalian melihat seorang laki-laki yang biasa ke masjid, maka persaksikanlah baginya dengan keimanan.”
Sa’id bin Al-Musayyab berkata:
“Barangsiapa duduk di dalam masjid, maka sesungguhnya ia duduk bersama Rabbnya. Maka tiada berhak ia berkata-kata melainkan perkataan yang baik.”
Diriwayatkan dalam perkataan sahabat (atsar) atau dalam hadits Nabi saw. bahwa: “Berbicara di dalam masjid itu memakan segala kebajikan, sebagaimana binatang ternak memakan rumput.”
An Nakha’I berkata,…
“Mereka berpendapat bahwa berjalan dalam malam yang gelap ke masjid adalah mewajibkan bagi surga.”
Anas bin Malik berkata,…
“Barangsiapa memasang lampu dalam masjid, niscaya senantiasalah para malaikat dan pemikul ‘Arsy memohonkan ampun baginya selama masih ada cahaya lampunya di dalam masjid itu.”
Ali karamallahu wajah berkata,…
“Apabila meninggal dunia seorang hamba, maka ia ditangisi oleh mushallanya dari bumi, dan oleh pembawa naik amalannya dari langit.”
Kemudian Ali membaca ayat,…
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَاْلأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِ يْنَ
“Maka langit dan bumi tiada menangisi mereka dan merekapun tiada di beri tangguh.”
(Qs. Ad Dukhan 29)
Ibnu Abbas ra. berkata,…
“Bumi menangisinya selama 40 pagi.”
‘Atha’ Al Khurasani berkata,…
“Tidaklah seorang hamba yang bersujud kepada Allah satu sujud pada suatu penjuru bumi, melainkan penjuru bumi itu naik saksi baginya pada hari kiamat dan menangisi kepadanya pada hari ia meninggal dunia.”
Anas bin Malik ra. berkata,…
“Tidaklah suatu penjuru bumi yang disebutkan nama Allah padanya dengan shalat atau dengan dzikir, melainkan penjuru bumi itu membanggakan diri dengan penjuru-penjuru bumi lain di-sekitarnya. Dan merasa gembira dengan mengingati Allah ‘Azza Wa Jalla sampai kepada lapisannya yang paling penghabisan dari tujuh lapisan bumi. Dan tidaklah seorang hamba yang bangun berdiri mengerjakan shalat melainkan terhiaslah bumi karenanya.”
Dan ada yang mengatakan,…
“Tiadalah suatu tempat yang ditempati padanya suatu kaum, melainkan jadilah tempat itu berdo’a kepada kaum tersebut atau mengutuk kaum tersebut.”
Allahumma shali ala sayidinna muhammad wa ala ali sayidinna muhammad...
<-- Sebelumnya Berikutnya -->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar